Kau tahu apa yang membuat seseorang merakit perahu? Perahu yang terbuat dari kayu. Laut jawabannya kalau kau tak tahu.” *** Rumahnya terletak di sebuah pulau kecil, pulau pribadi yang dimilikinya. Itu dunianya. Ia seorang nelayan muda, tangguh dibandingkan dengan nelayan lainnya. Namun banyak yang tidak tahu, ia juga sangat lihai dalam membuat perahu. “Bagaimana seorang nelayan memiliki pulau pribadi?”, kau juga bisa kalau kau mau. Tidak ada yang melarang. Pulau yang bisa kau jadikan tempat tinggal. Pulau yang bisa kau singgahi karena rindu sesaat. Atau pulau yang bisa kau tinggalkan sesukamu. Namun kau tahu? Pulau-pulau ini hidup. Mereka dapat merasakannya ketika kau menelantarkannya. *** Sang nelayan adalah perawat dari sebuah pulau kecil. Sebut saja pulau ini Nafas. Tanpa Nafas tersebut, sang nelayan tidak dapat hidup. Mengapa? Karena Nafas adalah apa yang selama ini ia jaga. Suatu hari sang nelayan harus pergi meninggalkan Nafas, untuk pergi mencari Nafsu, sebuah pulau yang terkenal dengan keindahan alamnya. Cantiknya tidak perlu diragukan. Siapa yang melihatnya akan terpikat untuk mampir sejenak. Paling tidak menunggu sampai matahari terbenam. Matahari yang akan segera terlelap melukiskan wajahnya semakin cantik. Sang nelayan merakit perahu kecil, untuk menyebrangi lautan yang memisahkan antara Nafas dan Nafsu. Kemudian ia berangkat. Membelah lautan, ditemani ombak tanpa sekat. Tiga jam ia habiskan di laut seorang diri sampai akhirnya tiba di bibir Nafsu. Tanpa ditemani siapapun, sang nelayan menjelajahi Nafsu, tanpa mencari sesuatupun. Tanpa disadari sang nelayan telah menetap selama dua minggu. Keindahan alam Nafsu telah memanjakan matanya. Sang nelayan tahu, suatu saat Nafsu akan meminta sesuatu sebagai imbalan dari tubuhnya yang sudah ditelanjangi dengan mata sang nelayan. Tiba saatnya, tepat dua puluh satu hari sejak sang nelayan tiba, Nafsu meminta imbalan kepadanya. Ia diberi dua pilihan, tinggalkan Nafsu yang dipenuhi dengan kecantikan atau serahkan Nafas untuk dijadikan pulau pendamping oleh Nafsu. Sang nelayan memilih untuk pergi meninggalkan Nafsu seketika. Namun ia tidak dapat menemukan perahunya. Sang nelayan kembali merakit perahu. Kali ini ia akan pergi ke sebuah pulau yang namanya sempat ia dengar beberapa kali. Utara dari Nafsu, adalah sebuah pulau yang disebut Nadi. Desas-desus, Nadi memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh Nafsu, yaitu air tawar. Di dalam Nadi ada sebuah danau yang dihuni oleh seekor duyung. Namun duyung ini sangat jarang menampakkan diri kepada manusia. Ia tidak ingin ditemukan. Maka dari itu ia membuat berbagai halang rintang yang terbentang dari karang pantai hingga danau tempatnya bersembunyi. Dengan harapan tiada makhluk yang dapat menemukan keberadaannya. Sang nelayan hanya membutuhkan waktu satu jam untuk mengarungi lautan. Namun sesampainya ia di Nadi, perahunya mengalami rusak parah. Ia merakit perahu baru, untuk berjaga-jaga siapa tahu ia akan membutuhkan perahu tersebut lebih cepat daripada dugaannya. Seselesainya merakit perahu, sang nelayan berjalan masuk menelusuri Nadi. Ia datang dengan tangan hampa tanpa membawa senjata apapun. Yang ia bawa hanyalah sebotol air minum dan topinya yang sudah usang. Dari fajar hingga petang ia berjalan mengitari Nadi, namun tidak menemukan jebakan apapun dari sang duyung. Sampai saatnya ia membelalakan mata, terpampang dihadapannya sebuah danau berwarna merah muda yang tersipu oleh sinar matahari. Ia tidak percaya apa yang ia lihat. Mengapa ia dapat menemukan danau tersebut tanpa halang rintang, ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Tanpa maksud lain, sang nelayan mendekati danau tersebut untuk mengisi botol airnya. Namun topinya jatuh ke dalam air dan kemudian ia masuk ke dalam danau untuk mengambilnya. Karena terlanjur basah, ia memutuskan untuk mandi di danau tersebut. Tidak sengaja ia bertemu dengan sang duyung. Sang duyung berenang menjauh namun sang nelayan mengejarnya. Dua kali sang nelayan mencoba mengejar sang duyung namun tak berhasil. Untuk yang ketiga kalinya ia mencoba, seketika air berubah hitam dan berbuih. Sang nelayan bergegas keluar dari dalam air. Takut akan hal lain yang kelak dapat mengancamnya, sang nelayan pergi meninggalkan Nadi. Dengan perahu yang sudah dirakitnya terlebih dahulu, ia kembali bersahabat dengan ombak. Diatas perahu, ia baru menyadari bahwa betisnya terkoyak. Bukannya menutupi luka tersebut, ia malah menyiram air laut ke lukanya. Rupanya ia ingin merasakan pedih. Pedih yang mendalam, sengaja, supaya ia tidak lagi takut akan rasa pedih di kemudian hari. Untuk berjaga-jaga. Kemana sang nelayan mengarah sekarang? Ia kembali. Kembali ke pangkuan Nafas. Dunianya yang ia tinggalkan selama hampir satu bulan ini tidak pernah asing baginya. Pasir putih sebagai rumah, para tetangga nelayan sebagai saudara, dan karang sebagai pagar, pagar dunianya bagi hal asing diluar sana. *** Satu tahun sang nelayan tidak menjelajah, menyapa ombak, dan membiarkan matahari siang yang terik mencumbu kulitnya yang legam. Sampai suatu senja, gunung berapi di bawah laut terbangun dari tidur panjangnya. Membelah lautan dan memuntahkan isi perutnya. Pergeseran lempeng menimbulkan gempa dahsyat. Tsunami tidak dapat dihindari. Keindahan alam Nafsu hancur disapu ombak yang marah. Nadi juga tidak dapat berbuat apa-apa, ia tenggelam. Sang duyung yang tinggal di dalam danau pun lepas ke lautan namun tidak dapat bertahan hidup. Namun ajaibnya, Nafas selamat, namun ia memejamkan mata. Fajar tiba ditandai dengan kicauan burung dan sinar matahari. Nafas membuka matanya kembali, membiarkan para penghuni kembali beraktifitas, membangunkan sang nelayan dengan bantuan bunyi ombak. Sang nelayan duduk dan sarapan di pagar, sebuah karang besar yang menghalangi ombak masuk membasahi rumahnya. Karang itu pula tempat perahunya beristirahat. Bersandar namun terombang-ambing. Matanya memandang ke lautan. Ia melihat sebuah pulau baru yang tidak terlalu jauh jaraknya dari Nafas. Karangnya membatasi ombak yang masuk, pasirnya putih, tanahnya ditumbuhi semak. Ia beranjak dari tempat duduknya, menaiki perahunya yang sudah lama tidak diajak bermain, perahu yang terbuat dari kayu. Mengarungi lautan kembali untuk menyapa sebuah dunia baru. Dunia yang tidak pernah ia sangka ada keberadaannya. Dunia baru yang muncul setelah badai reda. Dunia yang akan memberikan berbagai peluang kepadanya. Dunia yang kelak akan ia jaga atau malah ia cemari. Dunia yang jauh berbeda dari Nafas. Dunia yang kemudian ia namai, Darah.

Jan 23 -
Perahu Kayu

Meta:

I'm every color you see.